“Normal Baru” – Muhamad Wahyudi

Setelah enam bulan digempur wabah, suatu pagi televisi dan radio dan internet berbondong-bondong menyampaikan breaking news: pandemi tiba-tiba berakhir. Wabah hilang, virus musnah. Tes-tes laboratorium menunjukkan hasil negatif. Sampel darah orang-orang kembali diperiksa, hasilnya nihil. Semua orang kembali sehat. Seperti dongeng penuh keajaiban, dalam waktu singkat manusia telah terlepas dari cengkeraman maut tak kasat mata.

Maka, pagi ini jalanan tumpah ruah. Manusia di seluruh penjuru dunia turun ke jalan. Orang-orang berkerumun, membentuk lingkaran, lalu melemparkan masker ke udara. Persis seperti wisuda. Di lain tempat, pengunjung daerah wisata membludak. Di pantai, ribuan manusia berjemur seperti sampah dihanyut arus. Di mal, kafe-kafe kewalahan melayani konsumen. Warung-warung kopi pinggir jalan apalagi. Mereka yang nongkrong di sana bercerita betapa susah dan payahnya hidup di masa pandemi, sulitnya setelah di-PHK, dan kebutuhan pokok yang makin macam-macam namun tak sebanding dengan harganya yang makin melambung. Sementara, presiden dan jajaran menterinya menggelar syukuran massal di istana.

Dua hari berlalu. Semua sanak saudara, jalan, dan toko telah dikunjungi. Pasar-pasar yang tadinya penuh seperti hendak lebaran, kini normal kembali. Mereka yang tak punya pekerjaan di luar rumah kini mengaso berkipas-kipas, terbengong-bengong di rumah. Tiba-tiba orang-orang tersadar: sekarang apa?

Maka, kantor Dinas Tenaga Kerja dijubeli puluhan ribu orang. Dari pagi buta hingga sore suntuk kepadatan manusia tidak berkurang. Ribuan perusahaan membuka lowongan, namun jumlahnya tidak sebanding dengan pelamar yang datang. Mereka yang tak kunjung dapat kerja namun punya sedikit modal, baik dari gadai motor maupun utang ke mertua, mulai menjajal usaha dagang. Karena sesaknya persaingan, pedagang kaki lima menawarkan barangnya sangat murah. Membuat keuntungan bahkan tak bisa dibawa ke rumah. Yang tak punya apa-apa memberanikan diri melakukan seni pertunjukan jalanan: mengamen, manusia patung, atau berakting seolah cacat. 

Masih dalam minggu yang sama, pemberitaan kini heboh membahas keluarga korban wabah yang beramai-ramai memindahkan jasad keluarganya ke pekuburan umum. Tukang gali kubur adalah orang-orang paling berduit saat ini, berikut tukang bunga dan penyewaan mobil pikap. Keramaian tersebut membuat wilayah sekitar pemakaman menyebarkan bau busuk yang amat sangat. Mariyadi, yang tadinya buruh pabrik bantal sebelum di-PHK, juga hendak memindahkan mayat istrinya. Namun ia kurang beruntung karena tidak kebagian mobil. Keluarga sudah menunggu di rumahnya, jenazah berbalut kafan kumal telah diangkat, baunya menguar bikin perut mual. Ia dan anak perempuannya tak punya pilihan lain selain memboncengkan almarhumah istrinya di jok belakang motor.

“Dipalangkan atau diusung, Yah?” tanya sang anak.

“Bodoh kau! Itu ibumu! Dudukkan yang benar!”

“Tapi susah Yah!”

“Aduh! Sudah, robek saja kain bagian kakinya, biar bisa mengangkang!”

Maka duo ayah dan anak itu menjadi headline berita televisi dan koran esok paginya dengan foto yang amat mengerikan. Ayah dan anak itu ditangkap, diperiksa, dan dijerat pasal mengganggu kenyamanan publik. Pengacara kondang membela hak mereka, yang disambut ramai pula oleh khalayak.

Tak sampai seminggu, ratusan ribu orang berkumpul di jalan-jalan berbagai kota, menuntut pembebasan Mariyadi dan anaknya. Mereka berdua menjadi simbol perlawanan, bukti ketidakpedulian pemerintah pada nasib miskin rakyatnya. Peserta aksi protes terdiri dari pengangguran, mahasiswa, serta organisasi masyarakat.

Sayangnya demonstrasi yang baru berlangsung satu hari juga disertai aksi penjarahan yang merebak di penjuru tanah air. Sasaran utama tentu saja supermarket, toko pakaian, dan barang-barang elektronik. Orang-orang membawa apapun yang tampak, tak peduli apakah bisa atau akan dipakai nantinya. Setelah kosong, gedung tak berdaya itu dibakar. Kapitalisme harus dimusnahkan, gaung para demonstran. Mereka yang tinggal di rumah mengunci pintu rapat-rapat, takut dituduh antek pemerintah, lalu dicelakai atau dijarah pula.

Pemerintah, melalui juru bicara presiden dan kepala polisi, akhirnya menggelar konferensi pers untuk membebaskan Mariyadi dan anaknya. Namun semua itu terlambat. Orang-orang yang memulai aksi dengan niat murni pembelaan terhadap rakyat kecil sudah mundur, tetapi masih ada ratusan ribu yang menikmati kerusuhan sebab pulang ke rumah pun tak tahu mau apa. Kali ini demonstrasi berganti tema menjadi pengadaan lapangan kerja dan bantuan kemanusiaan.

Pada satu titik, seseorang melemparkan batu pada aparat keamanan, yang langsung dibalas pukulan bertubi-tubi. Lelaki itu mati berlumur darah di atas aspal, yang menuai api kemarahan seluruh negeri. Menimbang keamanan dan kebaikan masyarakat, pada akhirnya sekolah, kantor-kantor, pasar dan tempat hiburan kembali ditutup.

“Kenapa tidak boleh sekolah lagi, Bu?” tanya seorang anak saat sedang menonton berita bersama ibunya.

“Itu karena virusnya lenyap tapi hidup susah tidak ikut hilang. Sudah diam saja, sebentar lagi ayahmu pulang bawa roti sama beras!” jawab sang ibu. 

Malam itu, dan malam-malam berikutnya, sang ayah tak kunjung pulang.

TENTANG PENULIS

Muhamad Wahyudi adalah pedagang yang suka menulis. Buku pertamanya, Serayu Malam dan Kisah-Kisah Lainnya, diterbitkan Comma Books & KPG pada 2018.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s